| |
Kritik & Teori Sastra

Mengapa Kita Terus Menulis Fiksi?

"Di era digital yang serba pragmatis, fiksi sastra hadir sebagai suaka bagi nurani manusia untuk tetap peka merasakan empati."

Oleh Regina Maharani Rahman 25 August 2026 Waktu Baca: ~7 menit

Pertanyaan ini sering diajukan kepada para novelis: “Di dunia yang sedang dilanda krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan gejolak geopolitik, apa gunanya mengarang cerita tentang tokoh-tokoh rekaan yang sesungguhnya tidak pernah ada?”

Jawaban sederhananya adalah: fiksi adalah satu-satunya jembatan psikologis yang memungkinkan kita hidup di dalam tubuh, pikiran, dan penderitaan orang lain tanpa harus meninggalkan tempat duduk kita.

Fiksi sebagai Mesin Empati

Berita jurnalistik dapat memberi tahu kita jumlah korban suatu bencana alam atau perang. Statistik sosiologis dapat merangkum persentase kemiskinan di sebuah distrik perkotaan. Namun hanya fiksi sastranya yang mampu membawa kita merasakan dinginnya lantai semen yang harus ditiduri seorang ibu tunawisma, atau rasa getir di tenggorokan seorang pemuda yang kehilangan kekasihnya dalam sekejap.

“Fiksi tidak mengajarkan kita fakta tentang dunia, melainkan melatih kepekaan moral kita dalam memaknai fakta tersebut.”

Melalui fiksi, batas-batas prasangka suku, agama, dan gender menjadi cair. Kita bisa merasakan duka seorang lelaki tua di pedalaman Nordik, atau memahami keputusasaan seorang gadis remaja di pelosok Nusa Tenggara.

Di tengah zaman yang kian terfragmentasi oleh polarisasi opini, menulis dan membaca fiksi adalah sebuah tindakan pembangkangan puitis terhadap dehumanisasi.

Komentar (2)

Tanggapan & Jejak Pembaca

Ruang diskusi sastra