Peluit panjang lokomotif kereta malam jurusan timur terdengar membelah riuh rendah stasiun tua. Asap tipis membubung ke atap seng stasiun yang berlubang-lubang, membiarkan cahaya temaram lampu peron menembus kabut malam yang mulai turun.
Di bangku panjang peron tiga, Kalingga dan Raras duduk bersebelahan. Jarak sejengkal di antara mereka terasa bagai samudra yang tak terseberangi, namun tak ada lagi kepedihan yang menusuk. Rasa sakit yang dulu begitu tajam kini telah mengendap menjadi keheningan yang teduh.
“Kita tidak pernah benar-benar kehilangan apa pun yang pernah kita cintai dengan tulus, Lingga,” tutur Raras sambil menatap rel-rel besi yang mengilap disiram hujan gerimis. “Benda bisa lapuk, orang bisa pergi, janji bisa terputus oleh takdir. Namun rasa yang pernah hadir itu sudah menjadi bagian dari caramu memandang dunia.”
Kalingga tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, napasnya terasa lega dan lapang. Ia mengeluarkan kotak pernis kecil berisi pita satin merah marun itu dari saku mantelnya, lalu meletakkannya dengan hati-hati di telapak tangan Raras.
“Ikhlas bukanlah melupakan, melainkan mengingat tanpa lagi merasakan sesak.”
Pintu gerbong kereta mulai ditutup satu per satu. Saat kereta perlahan bergerak meninggalkan peron, Kalingga berdiri di samping jendela yang terbuka, menyaksikan siluet stasiun dan sosok Raras yang melambaikan tangan perlahan memudar ke dalam kegelapan malam.
Senja telah berakhir, namun di dalam dada Kalingga, fajar yang baru sedang bersiap menyingsing.

Tanggapan & Jejak Pembaca
Ruang diskusi sastra