| |
Jejak di Atas Gerimis • Bab 01

Bab 01: Bau Tanah dan Lembaran Usang

Oleh Regina Maharani Rahman Estimasi baca: ~7 menit

Hujan gerimis telah membasahi aspal Jalan Kotabaru sejak azan ashar berkumandang. Bau petrikor—aroma khas tanah kering yang tersiram air pertama kali—merembes masuk melalui kisi-kisi jendela ventilasi lantai dasar gedung cagar budaya itu.

Danu menyalakan lampu meja bergaya art deco yang bertudung kaca hijau zamrud. Di bawah sorot cahaya kuning hangat, sebuah map karton tebal berlabel “DOKUMEN TIDAK TERKLASIFIKASI: 1946-1949” terbentang di atas alas kain beludru hitam.

“Sejarah yang dicatat di buku teks sering kali hanya memuat nama para pemenang perang, namun sejarah yang disimpan oleh debu arsip mencatat air mata orang-orang yang terlupakan.”

Ketika ia mengenakan sarung tangan katun putih dan mengangkat lembaran pertama dengan pinset tumpul, selembar kertas tipis berbau wangi minyak mawar meluncur jatuh. Di atas kertas tersebut, tulisan tangan miring bersambung dengan tinta biru tua masih terbaca jelas:

“Jika gerimis ini tidak juga reda hingga fajar, aku akan menunggumu di bawah pohon asem depan benteng. Bawalah pita rambut itu…”

Komentar (2)

Tanggapan & Jejak Pembaca

Ruang diskusi sastra