Laci paling bawah dari meja tulis kayu mahoni itu tidak pernah terkunci, namun Arga selalu merasa membutuhkan keberanian berlebih hanya untuk sekadar menarik pegangan besinya yang bermotif daun teratai.
Di dalam laci tersebut, tergeletak sebuah anak kunci kuningan kecil dengan gantungan benang rajut berwarna biru safir. Kunci itu bukan untuk membuka pintu kamar ataupun gembok lemari, melainkan kunci sebuah kotak pos tua nomor 42 di kantor pos pusat lapangan Banteng yang sudah tidak pernah ia kunjungi sejak lima tahun lalu.
Arga menimang kunci dingin itu di telapak tangannya. Bobotnya ringan, tak lebih berat dari sebutir kerikil, namun di dalam kepalanya kunci itu terasa bagai jangkar kapal yang menahan seluruh masa lalunya agar tidak terseret arus kenyataan.
“Setiap pintu yang terkunci selalu menyimpan rahasia, namun pintu yang sengaja kita kunci dari dalam adalah penjara yang kita bangun dengan tangan kita sendiri.”
Ia berdiri perlahan. Menyingkap ujung gorden beludru abu-abu beberapa sentimeter. Cahaya matahari senja menyusup masuk menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Untuk pertama kalinya dalam sekian bulan, Arga merasakan dorongan untuk membuka pintu depan dan melangkah keluar menuju tangga stasiun.

Tanggapan & Jejak Pembaca
Ruang diskusi sastra