| |
Cerpen Sastra

Monolog Penjaga Mercusuar

"Tentang sebuah menara putih di ujung tanjung karang, dan lelaki tua yang merawat cahaya saat seluruh dunia terlelap dalam gulita samudra."

Oleh Regina Maharani Rahman 04 July 2026 Waktu Baca: ~6 menit

Tiga ratus enam puluh anak tangga besi spiral ini telah mengenal setiap derak persendian di lututku selama empat puluh musim barat dan musim timur. Setiap pukul enam petang, ketika cakrawala samudra selatan ditelan kegelapan pekat yang dingin, tugasku bermula: memutar tuas pemantik lampu suar berkekuatan dua ribu watt di puncak menara.

Lensa Fresnel bundar setinggi dua meter itu akan mulai berputar perlahan dengan bantuan bandul roda gigi mekanik, mengirimkan seberkas garis cahaya putih yang menyapu permukaan laut sejauh dua puluh empat mil laut.

Banyak orang mengira menjadi penjaga mercusuar di pulau karang terpencil adalah hukuman bagi jiwa-jiwa yang kesepian. Mereka salah. Laut tidak pernah membuatmu merasa sepi; manusialah yang kerap membawa kesepian mereka sendiri dari daratan.

“Cahaya mercusuar tidak pernah berteriak menyuruh kapal-kapal mendekat. Ia hanya berdiri kokoh memberi tahu di mana letak karang berbahaya, membiarkan para nakhoda memilih jalannya sendiri.”

Malam ini angin laut berembus kencang membawa aroma garam dan lumut basah. Di bawah sana, ombak menghantam dinding tebing karang dengan suara gemuruh yang menyerupai tepuk tangan ribuan penonton tak kasat mata.

Aku menuang kopi panas dari termos perak ke dalam mug kaleng. Menatap garis cahaya yang berputar tanpa lelah, aku tahu bahwa di suatu tempat di tengah gulita samudra yang tak bertepi, ada seorang pelaut yang sedang menarik napas lega saat melihat kelap-kelip cahaya dari menaraku.

✦ ✦ ✦
Tamat — Ditulis di Tanjung Baron, Gunungkidul
Komentar (2)

Tanggapan & Jejak Pembaca

Ruang diskusi sastra