| |
Cerpen Sastra

Perempuan Penebar Bunga Kertas

"Setiap sore menjelang magrib di peron stasiun tua kotagede, seorang perempuan duduk melipat kertas origami menjadi bebungaan merah muda."

Oleh Regina Maharani Rahman 10 August 2026 Waktu Baca: ~9 menit

Bagi para pedagang asongan dan kondektur kereta senja jurusan timur, sosok Nyi Sekar bukan lagi pemandangan aneh. Perempuan berambut perak yang disanggul rapi itu selalu tiba tepat pukul lima petang, membawa sebuah keranjang anyaman bambu kecil berisi ratusan lembar kertas lipat warna merah muda dan ungu lavender.

Ia duduk di bangku kayu panjang paling ujung peron satu, tempat di mana lokomotif uap kuno pernah berhenti puluhan tahun lampau sebelum jalur rel itu dialihkan ke stasiun pusat.

Jemari Nyi Sekar yang telah berkerut bergerak dengan ketangkasan yang mengagumkan. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi selembar kertas persegi untuk menjelma menjadi sekuntum teratai kuncup, atau burung bangau dengan sayap terentang sempurna.

“Setiap lipatan kertas adalah doa, Nak. Dan setiap sudut lancipnya adalah batas antara kepasrahan dan pengharapan.”

Saat kereta senja terakhir melintas pelan di jalur dua tanpa berhenti, Nyi Sekar akan berdiri. Dengan gerakan anggun layaknya penari keraton yang sedang mementaskan babak perpisahan, ia menebarkan beberapa kuntum bunga kertas itu ke udara. Bunga-bunga kertas itu melayang-layang tertiup angin baling-baling kereta, sebelum akhirnya mendarat di atas batu-batu kerikil rel yang hitam berminyak.

Anak-anak pemulung sering berebut memungut bunga-bunga kertas itu. Namun tak satu pun dari mereka tahu, bahwa di dalam setiap lipatan tersembunyi sebuah nama prajurit muda yang tak pernah kembali dari medan pertempuran Surabaya tahun empat puluh lima.

✦ ✦ ✦
Tamat — Ditulis di Kotagede, Yogyakarta
Komentar (2)

Tanggapan & Jejak Pembaca

Ruang diskusi sastra